Peraturan Hidup dalam Islam bagian 1 (Ibadah)

0

Posted by Dede Heri Yuli Yanto | Posted in Artikel ringan, Dakwah | Posted on 13-02-2012

Tags: , , , , ,


Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yang mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-nya, dengan dirinya dan dengan manusia sesamanya. Hubungan manusia dengan Khaliq-nya tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya tercakup dalam perkara akhlak, makanan, dan pakaian. Hubungan manusia dengan sesamanya tercakup dalam perkara mu’amalah dan uqubat (sanksi).

Hubungan manusia dengan Allah

Aqidah secara etimologi dari asal kata ’aqada – ya’qidu yang bermakna mengikat sesuatu, jika seseorang mengatakan (aku ber’itiqad begini) artinya: saya mengikat hati dan dhamir terhadap hal tersebut. Dengan demikian kata aqidah secara terminologi bermakna : sesuatu yang diyakini sesorang, diimaninya dan dibenarkan dengan hatinya. Sedangkan makna aqidah ditinjau dari pengertian syariat Islam adalah beriman kepadaAllah Subhanahu Wa Ta’ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya beriman kepada hari akhir dan qadla dan qadar Allah yang baik maupun buruk.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya dan kitab yang diturunkan kepda Rasul-Nya dan kitab yang diturunkan sebelum itu, dan barangsiapa yang kufur kepada Allah, dan malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir benar-benar ia telah sesat dengan kesetan yang jauh.” (QS. an-Nisa’ : 136).

Apa yang disebutkan di atas dari pengertian aqidah secara syar’i merupakan pokok-pokok aqidah Islam yang dinamakan dengan Arkanul Iman (rukun-rukun iman) atau Al-Ushulusittah (dasar-dasar keimanan yang enam). Dari keenam pokok keimanan inilah akan bercabang semua masalah aqidah lainnya yang wajib diimani oleh setiap muslim baik berkaitan dengan hak-hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, urusan akhirat maupun masalah-masalah ghaib lainnya.

Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi,

tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:

[1]. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.

[2]. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.

[3]. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:

“Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghen-daki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat : 56-58]

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).

Syarat diterimanya Ibadah

Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: “مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عليه أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ”

“Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang bukan termasuk tuntunan kami, maka amal itu tertolak” (HR. Bukhari dan muslim).

Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:

[a]. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.

[b]. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajib-nya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya : (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [Al-Baqarah: 112]

Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah berfirman:

“Artinya : Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam ber-ibadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi: 110]

Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah.

Dari pembahasan atas menunjukkan bahwa ibadah baik itu shalat, puasa, dan dzikir semuanya haruslah memenuhi dua syarat diterimanya ibadah yaitu ikhlas dan sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga tidaklah tepat perkataan sebagian orang ketika dikritik mengenai ibadah atau amalan yang ia lakukan, lantas ia mengatakan, “Menurut saya, segala sesuatu itu kembali pada niatnya masing-masing”. Ingatlah, tidak cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kaedah yang benar “Niat baik semata belum cukup.” Hanya Allah yang memberi taufik.

Mengenali Potensi Diri Kita (Part 1)

0

Posted by Dede Heri Yuli Yanto | Posted in Uncategorized | Posted on 24-10-2011

Tags:

“Tak kenal makanya tak sayang”, barangkali pepatah tersebut relevan digunakan untuk menggambarkan pentingnya mengenali potensi diri kita sebagai manusia agar kita semakin sayang kepadanya. Sayang yang saya maksudkan adalah agar kita menjaga kehormatan diri dari segala perbuatan dosa yang dapat menjerumuskan kita ke tempat paling rendah (asfala safiliin (neraka)) setelah Allah SWT meninggikan penciptaan kita (fii ahsani takwiim) di atas makhluk lainnya. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَـنَ فِى أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ – ثُمَّ رَدَدْنَـهُ أَسْفَلَ سَـفِلِينَ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah-rendahnya (neraka). (QS. At-Tiin (95): (4-5)

Ayat tersebut dilanjutkan dengan pengecualian bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bahkan bagi mereka terdapat pahala yang tiada terputus.

إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, maka bagi mereka pahala yang tiada terputus. (QS. (At-Tiin (95): (6)

Mengapa hanya orang-orang beriman dan beramal sholeh? Jawaban singkatnya adalah karena ia mampu mengenali potensi yang ada pada dirinya, serta mampu menggunakannya secara benar (bersumber dari Zat yang telah menciptakannya, yakni Allah SWT).

Setiap manusia (termasuk orang-orang kafir) diciptakan oleh Allah SWT dengan potensi yang sama, yakni (1) akal, (2) Gharizah (naluri), dan (3) Hajat al `udhowiyah (kebutuhan jasmani). Hanya saja, cara manusia menggunakan potensinya yang pada akhirnya membedakan apakah dia seorang muslim atau kafir, apakah dia penghuni syurga atau neraka.

Akal
Akal merupakan potensi yang sangat penting bagi manusia. Islam bahkan mewajibkan umatnya untuk menggunakan akalnya (disamping perasaan hati) dalam beriman kepada Allah SWT. Firman Allah SWT,

إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ وَاخْتِلَـفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لاّيَـتٍ لاٌّوْلِى الاٌّلْبَـبِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (Al-Imran (3): 190)

Siapa saja (termasuk orang-orang kafir) kalau mau menggunakan akalnya pasti akan menemukan bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akalnya terbagi menjadi tiga unsur, yaitu manusia, alam semesta dan kehidupan. Ketiga unsur ini bersifat terbatas, lemah, serba kurang dan saling membutuhkan kepada yang lainnya. Manusia bersifat terbatas karena ia lahir, tumbuh dan berkembang sampai batas tertentu yang tidak mungkin dilampauinya (kematian). Demikian pula kehidupan, penampakannya selalu berakhir pada satu individu, sehingga hidup pun bersifat terbatas. Alam semesta merupakan himpunan dari benda-benda angkasa yang setiap bendanya memiliki keterbatasan. Himpunan dari yang terbatas, tentu terbatas pula sifatnya. Jadi alam semesta-pun bersifat terbatas. Hal ini menggambarkan bahwa segala sesuatu yang ada itu adalah makhluk.

Segala sesuatu yang bersifat terbatas, pasti bersifat tidak azali. Jika bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir) tentu tidak mempunyai keterbatasan. Dengan demikian segala sesuatu yang terbatas pasti diciptakan oleh “sesuatu yang lain”. Sesuatu yang lain inilah yang disebut “Al-Kholiq”. Dialah Allah SWT.

Jadi, untuk membuktikan adanya “Al-Kholiq” Yang Maha Pengatur sebenarnya cukup dengan mengarahkan perhatian manusia terhadap benda-benda yang ada di alam semesta, fenomena hidup, serta dalam diri manusia itu sendiri. Karena itu di dalam Al-Qur`an banyak sekali terdapat ajakan kepada manusia untuk mengalihkan perhatiannya kepada benda-benda yang ada (alam semesta, kehidupan dan manusia) seraya mengamati dan merenungkan bahwa di balik semuanya itu terdapat Allah SWT yang telah menciptakannya.

Demikianlah akal dibekali kepada manusia agar ia mampu memahami bahwa dibalik penciptaan manusia, alam semesta dan kehidupan terdapat “Al-Kholiq” (Allah SWT) yang telah menciptakan semuanya. Namun amat disayangkan, setelah akal ini dibekali kepadanya, kebanyakan manusia tidak mau menggunakan potensinya untuk merenungkan semuanya tadi. Akal manusia diciptakan dengan potensinya yang mampu memahami keberadaan Penciptanya, tetapi manusia itu sendirilah yang tidak mau mempergunakan akalnya sehingga kebanyakan manusia malah menyembah sesuatu yang bersifat terbatas. Ada yang menyembah manusia (sebagai anak Tuhan), ada yang menyembah hewan, gunung-gunung, berhala-berhala batu, kayu, pohon, jin, bahkan hewan terkecil seperti semut. Sungguh aneh, tapi ini adalah fakta yang terjadi. Sekali lagi, inilah yang membedakan apakah seseorang itu muslim, atau kafir dan yang membedakan tempat berakhirnya, apakah di syurga atau di neraka. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita agar terus mau mempergunakan potensi akal kita untuk memikirkan dan merenungkan segala penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan ini sehingga semakin bertambah keimanan kepada-Nya. Amieen.

Demikianlah akal dan potensinya yang ada pada diri kita.
“wahai manusia, mari jujur kepada diri Anda, dan gunakan akal Anda, maka Anda akan dapat menemukan bahwa hanya Allah SWT, Tuhan yang telah menciptakan semuanya ini. Janganlah Anda menyembah sesuatu yang sifatnya sangat lemah dan terbatas. Sembahlah Dia (Allah SWT) yang bersifat “Azali”

WaAllahu A`lam bi Asshowab,