Mengenali Potensi Diri Kita (Part 1)

0

Posted by Dede Heri Yuli Yanto | Posted in Uncategorized | Posted on 24-10-2011

Tags:

“Tak kenal makanya tak sayang”, barangkali pepatah tersebut relevan digunakan untuk menggambarkan pentingnya mengenali potensi diri kita sebagai manusia agar kita semakin sayang kepadanya. Sayang yang saya maksudkan adalah agar kita menjaga kehormatan diri dari segala perbuatan dosa yang dapat menjerumuskan kita ke tempat paling rendah (asfala safiliin (neraka)) setelah Allah SWT meninggikan penciptaan kita (fii ahsani takwiim) di atas makhluk lainnya. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَـنَ فِى أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ – ثُمَّ رَدَدْنَـهُ أَسْفَلَ سَـفِلِينَ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah-rendahnya (neraka). (QS. At-Tiin (95): (4-5)

Ayat tersebut dilanjutkan dengan pengecualian bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bahkan bagi mereka terdapat pahala yang tiada terputus.

إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَـتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, maka bagi mereka pahala yang tiada terputus. (QS. (At-Tiin (95): (6)

Mengapa hanya orang-orang beriman dan beramal sholeh? Jawaban singkatnya adalah karena ia mampu mengenali potensi yang ada pada dirinya, serta mampu menggunakannya secara benar (bersumber dari Zat yang telah menciptakannya, yakni Allah SWT).

Setiap manusia (termasuk orang-orang kafir) diciptakan oleh Allah SWT dengan potensi yang sama, yakni (1) akal, (2) Gharizah (naluri), dan (3) Hajat al `udhowiyah (kebutuhan jasmani). Hanya saja, cara manusia menggunakan potensinya yang pada akhirnya membedakan apakah dia seorang muslim atau kafir, apakah dia penghuni syurga atau neraka.

Akal
Akal merupakan potensi yang sangat penting bagi manusia. Islam bahkan mewajibkan umatnya untuk menggunakan akalnya (disamping perasaan hati) dalam beriman kepada Allah SWT. Firman Allah SWT,

إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ وَاخْتِلَـفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لاّيَـتٍ لاٌّوْلِى الاٌّلْبَـبِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (Al-Imran (3): 190)

Siapa saja (termasuk orang-orang kafir) kalau mau menggunakan akalnya pasti akan menemukan bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akalnya terbagi menjadi tiga unsur, yaitu manusia, alam semesta dan kehidupan. Ketiga unsur ini bersifat terbatas, lemah, serba kurang dan saling membutuhkan kepada yang lainnya. Manusia bersifat terbatas karena ia lahir, tumbuh dan berkembang sampai batas tertentu yang tidak mungkin dilampauinya (kematian). Demikian pula kehidupan, penampakannya selalu berakhir pada satu individu, sehingga hidup pun bersifat terbatas. Alam semesta merupakan himpunan dari benda-benda angkasa yang setiap bendanya memiliki keterbatasan. Himpunan dari yang terbatas, tentu terbatas pula sifatnya. Jadi alam semesta-pun bersifat terbatas. Hal ini menggambarkan bahwa segala sesuatu yang ada itu adalah makhluk.

Segala sesuatu yang bersifat terbatas, pasti bersifat tidak azali. Jika bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir) tentu tidak mempunyai keterbatasan. Dengan demikian segala sesuatu yang terbatas pasti diciptakan oleh “sesuatu yang lain”. Sesuatu yang lain inilah yang disebut “Al-Kholiq”. Dialah Allah SWT.

Jadi, untuk membuktikan adanya “Al-Kholiq” Yang Maha Pengatur sebenarnya cukup dengan mengarahkan perhatian manusia terhadap benda-benda yang ada di alam semesta, fenomena hidup, serta dalam diri manusia itu sendiri. Karena itu di dalam Al-Qur`an banyak sekali terdapat ajakan kepada manusia untuk mengalihkan perhatiannya kepada benda-benda yang ada (alam semesta, kehidupan dan manusia) seraya mengamati dan merenungkan bahwa di balik semuanya itu terdapat Allah SWT yang telah menciptakannya.

Demikianlah akal dibekali kepada manusia agar ia mampu memahami bahwa dibalik penciptaan manusia, alam semesta dan kehidupan terdapat “Al-Kholiq” (Allah SWT) yang telah menciptakan semuanya. Namun amat disayangkan, setelah akal ini dibekali kepadanya, kebanyakan manusia tidak mau menggunakan potensinya untuk merenungkan semuanya tadi. Akal manusia diciptakan dengan potensinya yang mampu memahami keberadaan Penciptanya, tetapi manusia itu sendirilah yang tidak mau mempergunakan akalnya sehingga kebanyakan manusia malah menyembah sesuatu yang bersifat terbatas. Ada yang menyembah manusia (sebagai anak Tuhan), ada yang menyembah hewan, gunung-gunung, berhala-berhala batu, kayu, pohon, jin, bahkan hewan terkecil seperti semut. Sungguh aneh, tapi ini adalah fakta yang terjadi. Sekali lagi, inilah yang membedakan apakah seseorang itu muslim, atau kafir dan yang membedakan tempat berakhirnya, apakah di syurga atau di neraka. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita agar terus mau mempergunakan potensi akal kita untuk memikirkan dan merenungkan segala penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan ini sehingga semakin bertambah keimanan kepada-Nya. Amieen.

Demikianlah akal dan potensinya yang ada pada diri kita.
“wahai manusia, mari jujur kepada diri Anda, dan gunakan akal Anda, maka Anda akan dapat menemukan bahwa hanya Allah SWT, Tuhan yang telah menciptakan semuanya ini. Janganlah Anda menyembah sesuatu yang sifatnya sangat lemah dan terbatas. Sembahlah Dia (Allah SWT) yang bersifat “Azali”

WaAllahu A`lam bi Asshowab,

Write a comment